Persiapan Berangkat Haji dari Jepang Tahun 2019 (part 1)

Bismillah…

Salah satu keuntungan menjadi perantau di Jepang diantara berbagai tantangannya yaitu daftar haji tahun ini, insyaaAllah tahun ini juga bisa berangkat. Jadi agak lucu juga, wajah Indonesia bangeet.. tapi tas dan koper travel nya bendera Jepang. Sampai dulu pas kami jalan ke maktab setelah lempar jumroh, dimana jamaah haji asal Indonesia itu buanyak bangeet.. ada rombongannya yang papasan lah dengan kami. dari kejauhan sudah khas sekali seragam haji Indonesia, kemudian kami yg saat itu pakai masker mau nyapa “permisi pak, bu..”. Ga disangka ternyata yg disapa cuma diam melongo. Saya jadi mikir, kok ga dibales sapaannya ya? Oh iyaa ini pake tas dan atributnya ada bendera Jepang 😂. Saya tengok kebelakang untuk jawab kebingungan rombongan kecil jamaah itu, “saya orang Indonesia pak 😄.” Kemudian dijawab dengan tawa.. 😆. Mgkin juga meninggalkan tanda tanya, kok bisa yaah 😁

Jamaah Haji 2019 Air1Travel Japan
(kami berdua paling kanan)

Ini cerita perjalanan safar kami di tahun 2019 lalu ke Baitullah. Udah berlalu hampir 2 tahun. Disekitar tgl ini (20 Juni) di tahun itu, saya mengantar sendiri Yasir ke Indonesia untuk dititip ke Eyang dan Nenek nya. Waktunya cuma 2 pekan, gimana dlm waktu yg singkat,♦  Yasir yg saat itu usianya 1 tahun 3 bulan ini bisa familiar dengan sanak saudaranya yg selama ini jarang sekali dia jumpai. Sepekan pertama jadwalnya dengan Nenek di Bekasi. Sepekan kedua dengan Eyangnya di Depok. Setelah itu saya pulang sendiri ke Sendai.. 


Sebelum bahas suka dukanya antar Yasir ke Indonesia.. saya dan suami khususnya sudah dari lama berencana menjadikan haji sebagai target capaian pertama kami setelah menikah di akhir 2016 lalu, tentunya jadi alokasi utama di tabungan, bukan dana darurat. Setelah dikurangi pengeluaran pokok dan kewajiban bulanan, sisa pemasukan hampir sebagian besar untuk haji. Ini juga niat yg tertunda sejak suami mau memutuskan menikah, dulu katanya suami bingung antara mau berangkat haji dulu atau nikah dulu 😅. Kata ummi mertua, nikah dulu aja nanti berangkat haji nya berdua.. :”) maka ga lama sejak walimah, saat ngebahas impian2 kedepan, impian yg pertama adalah pergi haji berdua. Alhamdulillaah Allah mudahkan dengan cara-Nya.



Hingga akhirnya menjelang akhir 2018 dihitung-hitung tabungan haji ini udah cukup. Maka kami mulai cari-cari travel haji mana aja yang ada di Jepang. Ada beberapa travel yg saat itu buka pendaftaran haji, diantaranya Air1 travel, HIS, Mian dan satu lagi travel haji yang baru aja terbentuk. Setelah menimbang ini itu, dengan segala plus minus nya, ada yg fasilitas nya lengkap sesuai biayanya, ada yg lbh murah dgn gaya ala backpacker dll. Kami akhirnya memilih Air1 travel karena beberapa kawan yang sudah pernah naik haji pakai jasa travel ini dan travel ini termasuk travel haji terlama di Jepang dgn cabang di negara2 lain yaitu di Korea dan Hongkong. Meski akhirnya ada banyak kejadian yang cukup disayangkan.. alhamdulillaah kami bersyukur masih dikasih kesempatan dengan fasilitas yang ada. 


Timeline nya kurang lebih seperti ini.

  • Tgl 15 Desember 2018 mulai tanya ke travel via FB (Air 1 Travel), kami minta detail estimasi itinerary, alur dan formulir pendaftaran. 

  • 22 Desember 2018: Submit form pendaftaran, scan paspor dan residence card ke travel via email.

  • 7 Januari 2019 kami mulai melakukan pembayaran uang muka, resmi mendaftar haji dengan angsuran 5x: 

  • Uang muka (7 Jan)

  • 15 Feb

  • 15 Mar

  • 15 Apr

  • 15 Mei

Biaya belum termasuk kurban/dam, tur ke Jeddah (optional) dan asuransi perjalanan.


  • Tanggal 25 Februari 2019 kami dapat informasi itinerary pesawat dari Narita ke Jeddah, PP. Ternyata naik Air India. Sehingga kami transit di New Delhi.

  • 7 Maret 2019: Dibuat grup WA untuk jamaah

  • 1 April 2019: Submit dokumen fisik keperluan visa:

  • Formulir pendaftaran visa

  • Fotokopi paspor

  • Fotokopi residence card

  • Foto (5 cm x 4 cm)

  • 30 Mei 2019: Submit dokumen lanjutan keperluan visa:

  • Health certificate

  • Sertifikat vaksin meningitis

  • Sertifikat vaksin influenza

  • Certificate of student enrollment (untuk mahasiswa, untuk pekerja working certificate)

  • Scan buku nikah (diterjemahkan sendiri dan dilegalisasi KBRI, bisa ditanyakan ke KBRI)

  • Kontrak travel

  • 20 Mei 2019: Vaksin meningitis di klinik di Sendai, bisa googling untuk cari klinik yang menyediakan

  • 31 Mei 2019: Vaksin influenza di Sendai, stok sangat jarang karena vaksin influenza biasanya di musim dingin. Sedangkan saat itu musim semi. Submit dokumen tahap 2 sedikit terlambat.

  • 14 Juni 2019: Athifah dan Yasir ke Indonesia via bandara Sendai (Asiana Airlines).

  • 29 Juni 2019: Athifah kembali ke Sendai, Yasir di Indonesia. 


Nah urusan titip Yasir sementara ini punya bab nya sendiri. Ini juga yang sempat buat kami galau, apakah beneran mau berangkat haji tahun itu (2019) atau ngga karena usia Yasir yang masih setahun 3 bulan. Daripada suami, kayaknya saya nya yang lebih berat ninggalin Yasir karena pastinya saat itu juga si solih mesti disapih dini. Akhirnya mulai bertemu titik terang ketika saya nemu buku cerita haji hadiah pernikahan yang alhamdulillah terbawa sampai Sendai. Judulnya 'HAJJ WITH LOVE' dimana diceritakan oleh sepasang suami istri Indonesia yang berhaji di usia muda dengan meninggalkan 2 anaknya yang masih kecil : usia 3 tahun dan 1,5 tahun. Rasanya kalau baca bagian ini, ujian menjelang haji kami belum ada apa-apa nya. Kemudian salah satu paragraf ini terbaca :


"Naik haji dan berpisah dengan orang-orang tercinta adalah bukti kesungguhan kita dalam mengabdi pada Allah. Allah tidak meminta semua waktu kita. Hanya sebagian, setelah itu bisa bercengkerama lagi. Dan sungguh harta dan anak-anak adalah ujian bagi manusia. Sikap yang benar akan menghasilkan pahala dan ridho Allah SWT."


Ingin menangis rasanya, tapi inilah ujian dari Allah. Seakan di tes "kamu mau pilih siapa?" Setelah baca ini, jawabannya semakin jelas. Bismillah kami berangkat. 


Persiapan menitipkan Yasir dimulai dengan sounding terus menerus, 

"nak bulan depan Yasir bobo nya sama Eyang ya.."

"Yasir, pekan depan kita ketemu Nenek sama Eyang yuk. Yasir nanti nurut sama Nenek dan Eyang ya.."

"Nak, kalau udh mudik nanti, Yasir belajar ga nenen sama ummi lagi ya."

Daaan banyak kalimat lainnya. Entah Yasir faham atau ngga, terus aja dibahas, begitupun Abinya jga bantu sounding. Menjelang pergi ke Indonesia, setiap sounding ke Yasir selalu ada sesak-sesak nya.. lalu kembali ingat ke niat awal dan ga henti-henti nya minta ke Allah, minta dikuatkan karena mengantar Yasir ke Indonesia tanpa didampingi Abinya yang jatah cuti kuliahnya baru dipakai pas haji setelah itu.


Sempet kepikiran 'apa nyetok asi aja ya? Eh tapi nnti dipesawat bawanya gimana.. kayaknya ribet', belum juga saat itu entah faktor banyak pikiran atau ngga kok asi udah ga begitu banyak. Setelah menimbang dan konsultasi ke senior-senior di Sendai, kami memutuskan untuk mengalihkan ketergantungan asi ke susu sapi murni dan susu kedelai kotakan. Alasannya selain kami sepakat untuk tidak memberi susu formula dan botol dot, susu kotakan ini rasanya lebih memudahkan Eyang & Neneknya nanti. Bahkan karena sudah dibiasakan satu hari jatah susu kotak 1, Yasir punya rasa favoritnya ^^. Alhamdulillah, pas banget Pakji (Kakek) nya Yasir sempat dinas ke Jepang sbelum Yasir dititipkan ke Indonesia. Jadi Pakji bawa puluhan (mgkin), susu2 kedelai kotakan aneka rasa untuk Yasir minum saat disapih nantinya :")


Sedangkan perjalanan di pesawat berdua Yasir sungguh punya cerita nya sendiri. Alhamdulillah dalam perjalanan itu, Allah kirim keluarga orang Indonesia asal Medan yg saya yakini sekali bukan orang muslim, tapi mereka jdi seolah olah malaikat penolong saya selama perjalanan 8 jam itu (transit di Incheon). Awalnya saya berharap bangku disebelah kosong, jd bisa lebih leluasa untuk gonta ganti gaya duduk sambil mangku Yasir, yang ternyata dari Incheon (Korea Selatan) sebelahan dengan Oma Opa dan Tante yang baik hati. Mereka banyak bantu saya untuk alihin perhatian Yasir sembari nyuruh saya makan. Kebayang ga di pesawat, perjalanan jauh berjam-jam tanpa suami, buat makan aja bisa belipat lipat ribetnya krna anak udh bisa berantakin ini itu, apalagi meja dudukan pesawat deketnya kayak apa yakaan XD. Belum lagi.. Ya Allah itu monitor di bangku error. Padahal semua bangku yang saya liat monitor nya baik2 aja. Rencana untuk kasih Yasir tontonan kalau mulai bosan, pupus-lenyap-hilang-menguap gitu aja. Mau nangis XD


Segala cara diusahakan supaya Yasir ga tiba2 nangis dan teriak2 karena ini perjalanan malam hari. Khawatir banget ganggu penumpang yang lain. Efeknya saya sakit kepala karena nahan ngantuk saat anaknya terjaga, dan pas anaknya tidur, saya nya udah ga ngantuk lagi dgn kepala semakin sakit plus nahan mual. Ditahaaan tahan… jangan sampai anaknya udah dibikin anteng eh malah umminya yg bikin kehebohan. 


Waktu rasanya berlalu lama sekali ditengah sakit kepala dan ingin muntah. Malam itu begitu hening didlm pesawat. Hingga satu waktu saya udah ga bisa nahan mual lagi, dan bersamaan Yasir pup (kayaknya karena masuk angin) sampai mesti ganti pakaian juga. Di kamar mandi itulah segala hajat tuntas. Yasir yang sedang diganti pakaiannya tiba-tiba teriak kesenengan karena kanan kiri nya papan ganti popok ada cermin. Saya membeku plus keringet dingin, 'please jangan teriak nak'. Mungkin disangka penumpang lain kenapa napa kali ya.. sampai ada yang ngetok-ngetok pintu kamar mandi. Huhuu.. gomennasaii. Tapi alhamdulillah tsumma alhamdulillah.. kami landing di Soetta dengan sehat dan selamat. Tidak lupa berpamitan dengan keluaga Oma di pesawat ^^.


Yasir di pesawat menuju Sendai setelah hampir 2 bulan di Indonesia


Mengenalkan Yasir ke sanak saudara nya alhamdullah Allah mudahkan. Dalam waktu 2 pekan itu, perlahan lahan saya kurangi waktu bersama Yasir terutama mendekati kepulangan ke Sendai. Entah itu silaturrahim ke rumah teman yang dekat rumah Eyangnya, sampai janjian sama teman-teman di kampus. Hingga di hari H harus kembali ke Sendai, posisi saya dan Yasir sudah ga serumah. Yasir dengan Eyangnya di Depok, saya dirumah Nenek di Jakarta sambil cicil-cicil keperluan haji yang mau dibawa ke Sendai. Pikiran udah kemana mana, ke Yasir iya, khawatir balik ke Sendai sendiri iya, barang-barang keperluan haji jga perintilan banget. Otak berisik banget pokoknya >.<. Memang akhirnya cuma bisa memasrahkan semua urusan dan segala gelisah ke Maha Mengetahui lagi Maha Menjaga. Apalah daya badan ini yang ga bisa meng-kloning diri jadi banyak.. :")


Singkat cerita sampailah di bandara Sendai. Suami sudah siaga di depan pintu keluar, merasa heran kenapa istrinya kok ga keluar keluar padahal daritadi udah berkabar sedang antri di imigrasi. Qadarullah koper saya yang isinya rempah2 nusantara, rendang homemade buatan Nenek Jakarta 2kilo beratnya kena sita petugas imigrasi. Didukung cuaca yang saat itu hujan, tanpa Yasir, 'harta karun' ga lolos imigrasi. Menangislah sejadi jadinya di mobil.. sedangkan suami cuma terdiam. Semua rasa bercampur aduk disana, serasa langit ikut menangis bersama :") #mellowbangetbanget


Keesokannya kami kirim paspor ke pihak travel untuk urus visa haji. Disini jadi momen saya banyak bermuhasabah, mungkin aja kalau Allah ga ridho untuk saya datang ke Baitullah, maka itu visa ga bisa keluar. Betul-betul banyak doa di waktu menunggu ini. Sampai ketika sedang haji, saya baru tau kalau ternyata ada juga yang visa hajinya ga lolos sedangkan suaminya bisa dapat. Qadarullah.. suaminya jadi jalan sendiri.

  • 10 Juli 2019: Dapat visa Haji, Alhamdulillah.. Visanya bisa diunduh langsung dari website pemerintah Arab Saudi.

  • 15 Juli 2019: Manasik haji KMII Jepang di SRIT, Tokyo.


Selain tentunya modal materi untuk bisa berangkat haji, ilmu pun harus dipersiapkan semaksimalnya. Dengan sejumlah agenda sebelum memulangkan Yasir, kami pribadi cuma bisa baca buku panduan haji yg saya beli sebelum ke Sendai dan juga dari youtub. Alhamdulillah karena musim haji, KMII Jepang ngadain acara manasik haji di Tokyo. Kami berdua pergi kesana dengan bus malam (karena jarak Sendai-Tokyo 6 jam dengan bis) dan paginya langsung menuju SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo). Disana kami berkesempatan ketemu jamaah-jamaah lainnya berikut petugas Air1 travel.


(Cerita keberangkatan Haji di part 2, coming soon.. InsyaaAllah)


No comments:

Post a Comment