Bingkisan Sebuah Perjalanan Dan Perpisahan [Catatan Pribadi]

/ 6/21/2017

suatu hari di kota Kaohsiung, Taiwan

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Qs. Al-Mulk : 15)

Tepat sepekan yang lalu, kami riweuh urus kepindahan dari Chemnitz. Dari packing pakaian, bahan-bahan makanan yang bersisa dan ga mungkin kami bawa, urus registrasi keluar asrama sampai perlu nge-cat dinding kamar yang ‘kata’ hausmeister (pj asrama) berubah warna (jadi putih sedikiiiiiiiiit dekil lebih tepatnya) dan berlanjut nge-cat dinding sharing room dengan tetangga yaitu dapur. Kembali lagi kami mengulang kejadian 5 bulan sebelumnya, angkat-angkat koper naik bis dan tram. Tapi Alhamdulillah kepulangan kami banyak yang membantu. Abang, Mas, Bapak dan Mba-Mba yang sudah seperti keluarga kami selama berkelana di Jerman. Semoga Allah balas kebaikan mereka dengan surga-Nya..

“Tenang aja.. 5 bulan ga akan berasa.” Inget dulu waktu pertama kali injek kaki di tanah Eropa.. takutnya, khawatirnya, dan ga nyamannya saya tinggal di Jerman. Itu semua ngebuat saya lebih baik nyibukkin diri di dalam kamar aja daripada mesti keluar dan ketemu orang-orang asing yang saya ga bisa bahasanya. Alhamdulillah 1-2 bulan lewat, life must go on, dapur mesti ngebul, 1 team mesti kompak. Yang 1 rutinitas ke lab, saya urus rumah (kamar). Alhasil mesti berani belanja sendiri, nanya-nanya orang Indonesia banyak hal terutama bahan makanan, main ke wohnung (tempat tinggal) Mba-Mba disana sendirian. Well, semuanya berbuah juga.. manis iya, asem iya, pahitnya juga ada. Namanya juga buah kan, gimana kita ambil pelajarannya aja supaya nanti dapet banyak buah manis nya. Hehehe.

Memang bener sih waktu berjalan sangat cepat. Paling berasa ditinggal waktu kalau lagi ngejar jadwal tram atau kereta. Telat dikit dari jadwal, eh keretanya udah jalan di depan mata. Dan ngenesnya jadwal kereta setiap sejam sekali. Semuanya jdi mesti serba direncanain dan se-presisi mungkin. Duh, ini nih sering banget dialamin. Kaki yang biasanya naik motor kemana-mana mesti diajak jalan terus, saya mesti banyak menyesuaikan. Apalagi langkah-langkah kaki orang Jerman cepat dan lebar. Inget waktu pertama kali dibantu teman Mas Salman dari Jerman untuk urus sim card dllnya, beliau mungkin kayak jalan biasanya. Tapi di belakang kami beneran lari buat ikutin ritme beliau. Di tambah kondisi jalanan masih bersalju. Hahaha. Sedih sih kalau ada yang bilang kaki orang asia pendek-pendek (langkahnya kecil, jadinya lebih lamban). Tapi kenyatannya… hmm, bener juga sih kalau faktanya buat saya sendiri. Hehe.. 

Disamping banyaknya kejadian dan segelintir pengalaman kami saat disana, saya sendiri juga belajar banyak hal. Pelajaran yang mungkin ga saya temuin kalau saya ga alamin itu semua. Tempat baru, rumah baru, orang-orang baru, bahasa baru, kultur baru, gesture badan yang beda, budaya yang beda, saudara baru, kebiasaan baru, ilmu baru, dan itu semua ngebuka pandangan kami, khususnya saya tentang makna perjalanan yang kemudian tidak lepas dari momen perpisahan. Berpisah dengan semua yang awalnya terasa baru dan asing. Berpisah dengan semua momen baru yang sudah menyatu dengan kebiasaan. Berpisah dengan banyak keramahan teman baru dan makanan-makanan khas mereka. Mesti berpisah dengan ‘ladang ujian dan pembelajaran’ yang Allah amanahkan untuk dipelajari. Semoga semuanya berbuah ridho Allah ta’ala..

Bukan cuma di Chemnitz aja, sewaktu kami bertandang ke Belanda, Praha, Taiwan dan kota-kota lainnya di Jerman, saya melihat banyak orang asing dengan berbagai latar ras dan negara di satu tempat. Pernah suatu kali saya dan Mba eka (orang Indonesia yang paling sering saya ganggu waktunya selama di Jerman hehe) pulang naik bis menuju arah rumah kami di Gutenberg Str. Memang lingkungan kami tinggal wilayah mahasiswa karena berjejer beberapa gedung asrama. Jadinya, setiap kali pulang dari bepergian pasti kami se-tram atau se-bis dengan mahasiswa. Nah dibis itu seperti biasa kami ngobrol biasa sampai ada di satu detik kami sadar kalau di dalam bis semua orang yang saat itu sedang padat lagi pada saut-sautan ngobrol. Kami diem. Saya diem diem merhatiin sekitar dan kalau dihitung, saat itu mungkin ada 6 atau 7 bahasa asing dimana suara saut sautan berisik. Rasanya kayak naik bis di Jakarta, trus di sepanjang jalan ada petugas yang lagi cor jalanan. Berisik, bikin puyeng. Haha. Entah kenapa kami ketawa sendiri, ini toh namanya ‘Angkot Internasional’. Dibelakang mahasiswa Arab, serong kiri Cina, ada Jerman, India, dll. Subhanallah.. betapa Allah membuat kita semua berbeda untuk saling menghargai.. 

Perjalanan selama ini juga buat saya semakin ‘melek’ keadaan. Bahwa banyaknya orang yang saya temuin, mereka-mereka ini sedang berjuang untuk hidupnya, ada yang disamping itu memperjuangkan agamanya. Kalau di Indonesia, mgkin kalau kita menjadi lebih ‘nakal’ atau berani masuk ke suatu kelompok maka hal-hal buruk pada tatanan sosial di masyarakat akan kita ketahuin. Siapa-siapa aja yang ‘pemakai’, atau siapa-siapa aja yang berbuat ga baik. Tapi disini, saya sendiri ga perlu untuk jadi orang seperti itu untuk tau banyak hal didalamnya karena kejadiannya ada disekitar kami. Berkumpul dengan saudara setanah air yang ternyata beragam cerita. Beragam tingkah. Beragam pandangan. Dan pastinya beragam agama. Subhanallah, mungkin ini kenapa Allah buat saya datang di Jerman untuk sekedar ‘icip’ dan tengok kehidupan disana secara singkat saja. Kalau takdirnya saya jadi mahasiswa dan masih single, wallahu’alam tantangannya akan sehebat apa. 

Lagi-lagi, bukan cuma dengan orang-orang Indonesia. Kenalan saya dari Kashmir, Jerman, Maroko dan Mesir juga kasih saya pelajaran di sisi lainnya. Kami semua mayoritas berhijab, dan kami memiliki tantangan yang sama untuk itu. Sungguh, nikmatnya ketika kita bisa berkumpul dengan orang-orang shalih. Bukan berarti saya shalihah lantas buat saya pantas, tapi bersama mereka ngebuat iman saya yang kendor jadi terikat, buat wajah saya yang menunduk perlahan menegak, buat semua kesulitan menjadi rasa syukur. MasyaaAllah, nikmat bersaudara sesama Muslim itu mahal, saudariku…apalagi sebagai kelompok minoritas di negara lain. Perbanyaklah berkawan dengan orang-orang shalih. Surga terasa dekat, meskipun nyala nya api neraka begitu berkoar-koar dibelakang punggungmu. Hingga perpisahan dengan senyuman dan pelukan hangat dari saudari-saudari ini adalah salah satu hal yang cukup berat untuk dilepas. Semoga kami berjumpa lagi di surga-Nya.

“dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Qs. Al-Anfal : 63)

Secara ringkas, perjalanan ini yang baru saya alamin langsung setelah menikah adalah, bahwa semuanya yang ada di dunia ga ada yang abadi. Orang yang kita temui hari ini akan dengan sangat cepat dan ga kerasa udah saatnya berpisah. Meskipun sudah berteman 5 tahun, seakan baru kemarin kenal lalu mesti pergi ke jalan masing-masing. Entah berpisah karena pindah tempat, berpisah karena sudah ajal atau apapun. Dan Allah menjadikan perjalanan sebagai sarana untuk hamba-Nya melihat betapa agung dan besar nya kuasa Allah atas penciptaan-Nya. Liat bangunan bersejarah disuatu negara di Eropa, tiba-tiba terbesit, “Ya Allah, Engkau Maha Melihat apa-apa yang hambamu lakukan pada zaman itu.” Trus sekarang Allah liat dan uji kita yang sebegini lemah imannya saat ini. Mungkin ujiannya ga seberapa dengan orang-orang shalih zaman dulu. Tapi nyerahnya lebih cepet. Astaghfirullah.. Nabi Muhammad malu ga ya punya ummat kayak saya. Ilmu cetek, iman kembang kempis, dan banyak lagi kurangnya. Banyak yang perlu di intropeksi buat diri saya sendiri. Dan ini momen musahabah paling 'nyess' menurut saya kalau sedang safar atau perjalanan jauh.

Pada akhirnya, kita sebagai manusia yang lemah akan bertemu Tuhan kita. Jalan apapun yang diambil, coba telisik banyak pelajaran di dalamnya. Banyak bersabar atas beratnya ujian yang kita hadapin. Banyak belajar dari orang yang lebih kekurangan untuk dapat makna syukur yang lebih ikhlas. Lihat sekeliling dan ambil banyak manfaatnya. Tundukkin egonya. Gerus habis rasa sombongnya karena sebetulnya kita awalnya ga berdaya sampai Allah kasih kemampuan. Kasih manfaat sebanyak-banyaknya untuk sekitar, karena kita gatau kapan batas usia kita selesai. Banyak merenung dan terus bersangka baik sama ketetapan Allah. Allah tau kita emang mampunya segini. Belum dikasih suatu hal bukan berarti Allah ga mampu kasih, tapi karena kita nya yang belum mampu diberi, mungkin belum mampu amanah. Semuanya serahin ke Allah aja deh.. satu lagi, jangan ngarep sama manusia. Lelah aja yang ada.. hehe. Liat aja Para Sahabat bisa dakwah ke mancanegara dan nyebar agama Islam pasti modal utamanya karena yakin nya total ke Allah. Padahal gatau juga di negara yang mereka datengin akan seperti apa. 

Ya Allah terlalu banyak nikmat yang Engkau berikan, maka mampukan kami untuk selalu bersyukur..

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-Ankabut : 2)


suatu hari di kota Kaohsiung, Taiwan

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Qs. Al-Mulk : 15)

Tepat sepekan yang lalu, kami riweuh urus kepindahan dari Chemnitz. Dari packing pakaian, bahan-bahan makanan yang bersisa dan ga mungkin kami bawa, urus registrasi keluar asrama sampai perlu nge-cat dinding kamar yang ‘kata’ hausmeister (pj asrama) berubah warna (jadi putih sedikiiiiiiiiit dekil lebih tepatnya) dan berlanjut nge-cat dinding sharing room dengan tetangga yaitu dapur. Kembali lagi kami mengulang kejadian 5 bulan sebelumnya, angkat-angkat koper naik bis dan tram. Tapi Alhamdulillah kepulangan kami banyak yang membantu. Abang, Mas, Bapak dan Mba-Mba yang sudah seperti keluarga kami selama berkelana di Jerman. Semoga Allah balas kebaikan mereka dengan surga-Nya..

“Tenang aja.. 5 bulan ga akan berasa.” Inget dulu waktu pertama kali injek kaki di tanah Eropa.. takutnya, khawatirnya, dan ga nyamannya saya tinggal di Jerman. Itu semua ngebuat saya lebih baik nyibukkin diri di dalam kamar aja daripada mesti keluar dan ketemu orang-orang asing yang saya ga bisa bahasanya. Alhamdulillah 1-2 bulan lewat, life must go on, dapur mesti ngebul, 1 team mesti kompak. Yang 1 rutinitas ke lab, saya urus rumah (kamar). Alhasil mesti berani belanja sendiri, nanya-nanya orang Indonesia banyak hal terutama bahan makanan, main ke wohnung (tempat tinggal) Mba-Mba disana sendirian. Well, semuanya berbuah juga.. manis iya, asem iya, pahitnya juga ada. Namanya juga buah kan, gimana kita ambil pelajarannya aja supaya nanti dapet banyak buah manis nya. Hehehe.

Memang bener sih waktu berjalan sangat cepat. Paling berasa ditinggal waktu kalau lagi ngejar jadwal tram atau kereta. Telat dikit dari jadwal, eh keretanya udah jalan di depan mata. Dan ngenesnya jadwal kereta setiap sejam sekali. Semuanya jdi mesti serba direncanain dan se-presisi mungkin. Duh, ini nih sering banget dialamin. Kaki yang biasanya naik motor kemana-mana mesti diajak jalan terus, saya mesti banyak menyesuaikan. Apalagi langkah-langkah kaki orang Jerman cepat dan lebar. Inget waktu pertama kali dibantu teman Mas Salman dari Jerman untuk urus sim card dllnya, beliau mungkin kayak jalan biasanya. Tapi di belakang kami beneran lari buat ikutin ritme beliau. Di tambah kondisi jalanan masih bersalju. Hahaha. Sedih sih kalau ada yang bilang kaki orang asia pendek-pendek (langkahnya kecil, jadinya lebih lamban). Tapi kenyatannya… hmm, bener juga sih kalau faktanya buat saya sendiri. Hehe.. 

Disamping banyaknya kejadian dan segelintir pengalaman kami saat disana, saya sendiri juga belajar banyak hal. Pelajaran yang mungkin ga saya temuin kalau saya ga alamin itu semua. Tempat baru, rumah baru, orang-orang baru, bahasa baru, kultur baru, gesture badan yang beda, budaya yang beda, saudara baru, kebiasaan baru, ilmu baru, dan itu semua ngebuka pandangan kami, khususnya saya tentang makna perjalanan yang kemudian tidak lepas dari momen perpisahan. Berpisah dengan semua yang awalnya terasa baru dan asing. Berpisah dengan semua momen baru yang sudah menyatu dengan kebiasaan. Berpisah dengan banyak keramahan teman baru dan makanan-makanan khas mereka. Mesti berpisah dengan ‘ladang ujian dan pembelajaran’ yang Allah amanahkan untuk dipelajari. Semoga semuanya berbuah ridho Allah ta’ala..

Bukan cuma di Chemnitz aja, sewaktu kami bertandang ke Belanda, Praha, Taiwan dan kota-kota lainnya di Jerman, saya melihat banyak orang asing dengan berbagai latar ras dan negara di satu tempat. Pernah suatu kali saya dan Mba eka (orang Indonesia yang paling sering saya ganggu waktunya selama di Jerman hehe) pulang naik bis menuju arah rumah kami di Gutenberg Str. Memang lingkungan kami tinggal wilayah mahasiswa karena berjejer beberapa gedung asrama. Jadinya, setiap kali pulang dari bepergian pasti kami se-tram atau se-bis dengan mahasiswa. Nah dibis itu seperti biasa kami ngobrol biasa sampai ada di satu detik kami sadar kalau di dalam bis semua orang yang saat itu sedang padat lagi pada saut-sautan ngobrol. Kami diem. Saya diem diem merhatiin sekitar dan kalau dihitung, saat itu mungkin ada 6 atau 7 bahasa asing dimana suara saut sautan berisik. Rasanya kayak naik bis di Jakarta, trus di sepanjang jalan ada petugas yang lagi cor jalanan. Berisik, bikin puyeng. Haha. Entah kenapa kami ketawa sendiri, ini toh namanya ‘Angkot Internasional’. Dibelakang mahasiswa Arab, serong kiri Cina, ada Jerman, India, dll. Subhanallah.. betapa Allah membuat kita semua berbeda untuk saling menghargai.. 

Perjalanan selama ini juga buat saya semakin ‘melek’ keadaan. Bahwa banyaknya orang yang saya temuin, mereka-mereka ini sedang berjuang untuk hidupnya, ada yang disamping itu memperjuangkan agamanya. Kalau di Indonesia, mgkin kalau kita menjadi lebih ‘nakal’ atau berani masuk ke suatu kelompok maka hal-hal buruk pada tatanan sosial di masyarakat akan kita ketahuin. Siapa-siapa aja yang ‘pemakai’, atau siapa-siapa aja yang berbuat ga baik. Tapi disini, saya sendiri ga perlu untuk jadi orang seperti itu untuk tau banyak hal didalamnya karena kejadiannya ada disekitar kami. Berkumpul dengan saudara setanah air yang ternyata beragam cerita. Beragam tingkah. Beragam pandangan. Dan pastinya beragam agama. Subhanallah, mungkin ini kenapa Allah buat saya datang di Jerman untuk sekedar ‘icip’ dan tengok kehidupan disana secara singkat saja. Kalau takdirnya saya jadi mahasiswa dan masih single, wallahu’alam tantangannya akan sehebat apa. 

Lagi-lagi, bukan cuma dengan orang-orang Indonesia. Kenalan saya dari Kashmir, Jerman, Maroko dan Mesir juga kasih saya pelajaran di sisi lainnya. Kami semua mayoritas berhijab, dan kami memiliki tantangan yang sama untuk itu. Sungguh, nikmatnya ketika kita bisa berkumpul dengan orang-orang shalih. Bukan berarti saya shalihah lantas buat saya pantas, tapi bersama mereka ngebuat iman saya yang kendor jadi terikat, buat wajah saya yang menunduk perlahan menegak, buat semua kesulitan menjadi rasa syukur. MasyaaAllah, nikmat bersaudara sesama Muslim itu mahal, saudariku…apalagi sebagai kelompok minoritas di negara lain. Perbanyaklah berkawan dengan orang-orang shalih. Surga terasa dekat, meskipun nyala nya api neraka begitu berkoar-koar dibelakang punggungmu. Hingga perpisahan dengan senyuman dan pelukan hangat dari saudari-saudari ini adalah salah satu hal yang cukup berat untuk dilepas. Semoga kami berjumpa lagi di surga-Nya.

“dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Qs. Al-Anfal : 63)

Secara ringkas, perjalanan ini yang baru saya alamin langsung setelah menikah adalah, bahwa semuanya yang ada di dunia ga ada yang abadi. Orang yang kita temui hari ini akan dengan sangat cepat dan ga kerasa udah saatnya berpisah. Meskipun sudah berteman 5 tahun, seakan baru kemarin kenal lalu mesti pergi ke jalan masing-masing. Entah berpisah karena pindah tempat, berpisah karena sudah ajal atau apapun. Dan Allah menjadikan perjalanan sebagai sarana untuk hamba-Nya melihat betapa agung dan besar nya kuasa Allah atas penciptaan-Nya. Liat bangunan bersejarah disuatu negara di Eropa, tiba-tiba terbesit, “Ya Allah, Engkau Maha Melihat apa-apa yang hambamu lakukan pada zaman itu.” Trus sekarang Allah liat dan uji kita yang sebegini lemah imannya saat ini. Mungkin ujiannya ga seberapa dengan orang-orang shalih zaman dulu. Tapi nyerahnya lebih cepet. Astaghfirullah.. Nabi Muhammad malu ga ya punya ummat kayak saya. Ilmu cetek, iman kembang kempis, dan banyak lagi kurangnya. Banyak yang perlu di intropeksi buat diri saya sendiri. Dan ini momen musahabah paling 'nyess' menurut saya kalau sedang safar atau perjalanan jauh.

Pada akhirnya, kita sebagai manusia yang lemah akan bertemu Tuhan kita. Jalan apapun yang diambil, coba telisik banyak pelajaran di dalamnya. Banyak bersabar atas beratnya ujian yang kita hadapin. Banyak belajar dari orang yang lebih kekurangan untuk dapat makna syukur yang lebih ikhlas. Lihat sekeliling dan ambil banyak manfaatnya. Tundukkin egonya. Gerus habis rasa sombongnya karena sebetulnya kita awalnya ga berdaya sampai Allah kasih kemampuan. Kasih manfaat sebanyak-banyaknya untuk sekitar, karena kita gatau kapan batas usia kita selesai. Banyak merenung dan terus bersangka baik sama ketetapan Allah. Allah tau kita emang mampunya segini. Belum dikasih suatu hal bukan berarti Allah ga mampu kasih, tapi karena kita nya yang belum mampu diberi, mungkin belum mampu amanah. Semuanya serahin ke Allah aja deh.. satu lagi, jangan ngarep sama manusia. Lelah aja yang ada.. hehe. Liat aja Para Sahabat bisa dakwah ke mancanegara dan nyebar agama Islam pasti modal utamanya karena yakin nya total ke Allah. Padahal gatau juga di negara yang mereka datengin akan seperti apa. 

Ya Allah terlalu banyak nikmat yang Engkau berikan, maka mampukan kami untuk selalu bersyukur..

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-Ankabut : 2)

Continue Reading
Ramadhan 1438 H sudah memasuki hari ke-13. Banyak hal yang saya pribadi baru alami di Ramadhan kali ini dan ada beberapa perbedaan saat terakhir kali Ramadhan di Indonesia. Selain puasanya udah ga single, tempat saya jalanin puasanya juga beda. Alhamdulillah kali ini di Chemnitz, rumah ketiga saya –sebut saja begitu- yang berada di Jerman Timur. Yang pastinya adalah.. euphoria Ramadhan ga terlalu berasa disini daaan… kami mesti puasa 19 jam.. :)

Makanan bukber di Zwickau
19 jam itu ga berasa sih, karena aktivitas saya emang kesehariannya di rumah aja (yaialah ga berasa) Hehehe. Tapi hal yang membuat saya harus menyesuaikan diri adalah jam tidur. Di Chemnitz dan untuk keseluruhan wilayah Jerman, dapat waktu subuh sekitar jam 2.40, dzhur jam 13.10, ashar 17.30, maghrib 21.20 dan isya di jam 22.40.  Jadi jam 2 pagi mesti udah bangun untuk sahur dan jam tidur kami setelah terawih paling cepet jam 12 malam. Dengan perbedaan 2 jam ini nih yang kadang suka bikin galau mau tidur atau mau tetep melek atau terjaga sampai sahur. Kadang udah ngantuk banget akhirnya tidur juga tapi beberapa kali maksain mata supaya ga tidur. Paling ngga salah satu dari kami mesti terjaga supaya bisa sahur dan enggak kelewatan subuh. Perjuangannya tuh disini, haha. Saya pribadi karena kondisi tidurnya berubah, efeknya bikin kepala sering pusing.. Tapi gapapa, mungkin memang badannya masih menyesuaikan :)

Jadwal sholat di Masjid TUC
Gimana cara siasatinnya? Sekarang mau masuk summer yang siangnya lebih panjang dari malam, dan otomatis jam shalat berubah kayak yang disebutin sebelumnya. Saya yang aktivitasnya banyak di dalam rumah mesti dapat tidur siang supaya pas maghrib ke subuh nya kuat untuk tidak tidur. Dan sebetulnya karena kondisi waktu ini dan atas pertimbangan fatwa komisi Ulama dan Dai di Jerman, Masjid Indonesia di Berlin mengeluarkan informasi bahwa pada tanggal 19 Mei-8 Agustus shalat isya nya bisa langsung dilaksanakan seketika setelah maghrib kemudian di lanjut terawih. Kalau di Masjid TU Chemnitz (Masjid kampus), jarak jadwal sholat maghrib ke isya nya 1,5 jam dan kami disini bisa ikut yang fatwa Masjid di Berlin atau Masjid di TUC terserah. Tapi, berhubung ikut jamaah shalat terawihnya di Masjid TUC, kami seringnya ikut jadwal disana. Mungkin nanti ikut fatwa di Berlin kalau kondisinya ga memungkinkan untuk dapat jamaah di Masjid TUC misalnya kedatangan Ustadz yang mengisi di Komunitas Muslim disini, kami bisa pakai fatwa yang di Berlin. Kurang lebih begitu..
Masjid TUC
Nah, ada yang sama nih kayak di Indonesia yang setiap berbuka biasanya Masjid setempat buka takjil dan makan besar buat para jamaah, di Masjid TU Chemnitz juga adakan hal yang serupa. Sampai-sampai untuk makan besar digelar semacam tikar diluar Masjid karena banyak yang ikut berbuka disana. Masyaa Allah nya, jadi sebelum Ramadhan ada orang Masjid buka kesempatan bagi siapapun untuk sedekah ifthar selama bulan Ramadhan. Ada kolom makanan, roti, minuman, kurma dll. Nah slot untuk sedekah ifthar selama Ramadhan full disana udah penuh. Jadi insyaaAllah kebutuhan ifthar sudah terpenuhi oleh para jamaah. Ga cuma Masjid TUC, Masjid Arab dan Turki pun demikian. Indahnya sih disini ya.. bisa bukber bareng sama saudara seiman dari berbagai ras dan negara. Tapi sayangnya cuma untuk laki-laki.. hehe.

Bukber di Masjid TUC
Bukber di Zwickau (bagian perempuan)
Ramadhan sudah jalan hampir 2 pekan, ya yang nyiptain suasana Ramadhan kami-kami sendiri. Alhamdulillah beberapa kali adakan bukber bareng orang-orang Indonesia di Zwickau dan Chemnitz. Seru, ada cerita suka dan haru nya juga. Suka nya karena kumpul-kumpul kayak bareng keluarga besar, trus harunya karena akhirnya bisa makan nasi uduk dan bakwan jagung disini. Bukan susah sebetulnya buat masak itu, tapi kurang niat aja sih sama pertimbangan jagung agak mahal jadinya ga pernah beli haha. Selain itu, saya nyoba buat kue-kue lebaran kayak nastar dan kue putri salju. Alhamdulillah, walaupun percobaan pertama bikin nastar hampir gagal karena suhu ovennya kebesaran, tapi ada dua kue ini buat suasana Ramadhannya bertambah. :D

Nastar
Kue Putri Salju
Sebenernya, mau dimanapun kita sekarang berada. Ramadhannya ga akan berubah. Mungkin iya suasananya, mungkin iya lingkungannya, tapi keutamaannya tetep sama. Saya yang masih sering lalai semestinya sadar di bagian itu. Gatau Ramadhan tahun depan dapet lagi atau ngga. Bahkan gatau besok masih dapat pahala Ramadhannya atau ngga. Puasa saya diterima atau ngga. Targetan Ramadhannya bisa serius dan ikhlas dijalanin atau ngga. Banyak hal yang mesti di evaluasi di Ramadhan kali ini. Bukan hanya untuk menghadapi Ramadhan tahun depan, tapi untuk jadi hamba yang beruntung. Dimana amalnya hari ini lebih baik daripada amalan kemarin. Yuk, lebih serius lagi ibadahnya. Mumpung Ramadhannya belum pergi... ^^ 

Prague atau Praha dikenal sebagai kota yang paling cantik di Eropa. Letaknya di Eropa timur ini adalah ibu kota sekaligus kota terbesar di Republik Ceko. Kota Praha dibelah oleh sungai Vitava yang kemudian untuk menghubungkan dengan wilayah sebrangnya, terdapat beberapa jembatan. Salah satu jembatan yang terkenal adalah Karluv Most atau Charles Bridge. Kota ini emang terbilang antik sih, ga seperti Jerman yang mungkin sudah banyak berubah menjadi lebih modern. Di Praha berjejer banyak bangunan tua yang cantik, jadi wajar ada yang bilang kalau mau liat Eropa cukup ke Praha hehe. Meskipun biaya hidup disana lebih kecil dari kebanyakan negara di Eropa, tapi yakin nih Praha bakal berkembang jadi negara yang terus meningkatkan kualitasnya. 

Kota Praha

Destinasi tempat yang kami kunjungi selama 2 hari semalam di Praha adalah National Memorial on Vitkov, Old Town Square, Astronomical Clock, Charles Bridge, Petrin Tower, dan beberapa Sinagog tertua. Rute itu bergerak dari timur Praha menuju ke barat, berhubung hostel tempat kami menginap letaknya di sebrang sungai Vitava. Dijamin sih walaupun niat cuma datengin tempat-tempat itu, sepanjang jalan menuju lokasi yang dituju kita udah bisa nikmatin suasana kota yang masih cukup asri dengan bangunan-bangunan antiknya. Mungkin kalau udah jadi artis rasanya mau langsung bikin video klip disana *lah. 

Old Town Square

Bangunan di sekeliling Old Town Square

Astronomical Clock di Old Town Square
Charles Bridge 
Pemandangan dari Charles Bridge


Petrin Tower
Salah satu Sinagog di Praha

Tdrnelik dengan ice cream, (makanan khas Praha) 

Metro di Kota Praha
Selain mengandalkan itinerary yang udah dibuat, sepanjang disana kami roaming internet jadinya masih sering akses google maps. Catetan nya adalah apa yang saya liat di google maps sewaktu buat itinerary dengan realitanya ternyata suka ga pas. Mungkin karena kota ini ga terlalu besar, jadi banyak jalanan yang bercabang sehingga suka sulit nerka jalan mana yang benar. Maka dari itu mesti akses google maps meskipun udah ngantongin itinerary. Di beberapa tempat ada wifi yang bisa dijangkau dan juga banyak orang disana yang bisa berbahasa inggris, jadinya jangan takut untuk bertanya kalau bingung :)

itinerary Praha
Hal pertama yang kami lakuin setelah sampai di Praha Florenc (tempat turun bis), kami ke tempat semacam informasi untuk turis. Ga jauh dari tempat bis turun. Kami tanya soal tempat penukaran uang, dan beli tiket transportasi. Money Changer bisa kita temuin di lantai bawahnya, dan mudah untuk ditemuin. Sedangkan day ticket untuk seluruh transportasi di Praha bisa dibeli disana. Bisa beli dengan Euro atau Kc (mata uang Praha). Untuk 2 orang kena biaya sekitar 9 Euro. Day ticket itu berlaku 24 jam semenjak kami tag tiket di transportasi pertama. Karena kami baru sampai Praha sekitar jam 2 siang dan pulang ke Chemnitz di waktu yang sama, jdi kami cukup beli tiket 1 hari aja, ga perlu 2 days ticket
Tiket Transportasi (prague-guide.co.uk)
Untuk pengunjung muslim, makanan yang bisa dibeli disana pastinya sama dengan negara-negara Eropa lainnya, Kebab! Haha.. tapi jangan lupa pastiin ada tulisan halal nya ya meskipun itu kebab atau doner belum tentu dagingnya halal. Masjid juga ada, bisa di tanya ke penjual kebab insyaaAllah nanti diarahkan ke Masjid terdekat. Satu yang kami temuin ada di belakang tempat kebab. Alhamdulillah. 

Masjid di Praha
Ada satu kejadian tentang hostel yang kami booking, kami kira awalnya mereka ambil biaya penginapan melalui kartu kredit karena memang tertulis seperti itu saat memesan online. Ternyata saat kami baru sampai disana sekitar pukul 8 malam, resepsionis nya bilang kami ga bisa pakai kartu kredit karena sudah malam. Kalau siang masih bisa katanya. Kami agak bingung juga sih kenapa karena soal siang dan malam aja.. ditambah kami juga tidak menukar uang untuk biaya penginapan, alhasil kami keluar lagi cari Change atau tempat penukaran uang. Money Changer cukup banyak disana, tapi lebih banyak di daerah kota Praha nya dan tutup diatas jam 10 malam. Alhamdulillah, kami masih dapat rezeki berlindung di bawah atap malam itu. Hehe. 

Secara keseluruhan, Praha itu kota yang bagus banget untuk dikunjungin. Banyak turis juga disana. Yaa meskipun yang saya liat ga sampai 7 orang yang berhijab selama perjalanan, Hehe.. ini jadi kebiasaan saya sih kalau pergi kemana-mana trus liat yang berhijab jdi seneng sendiri :’) *jadi curhat. Haha.. Terima kasih sudah baca tulisan kamii.. Semoga yang punya niat tafakur alam kesana, segera Allah ijabah :)



Thale, daerah yang ada di Jerman Timur ini berada di kota Saxony-Anhalt. Total luasnya sekitar 138 Km2. Tepatnya di Seilbahnen, daerah ini konon dikenal sebagai tempat para penyihir di Jerman karena wilayahnya yang di kelilingi perbukitan tinggi. Jadi, kalau main kesini bisa diliat souvenir yang di jajakan berbentuk boneka penyihir dan accesoris lainnya. 

Alhamdulillah kami rihlah ke Seilbahnen Thale Erlebniswelt namanya. Masuknya gratis, tapi tiap wahana berbayar sebelum bermain. Cocok banget untuk keluarga yang punya anak untuk main kesini. Wahana yang disajikan juga cukup banyak dengan wilayah yang luas dikelilingi pemandangan bukit yang indah banget. Diantara wahana yang ada, kami naik cable car atau kereta gantung dan Rodelbahn harzbob semacam seluncuran di jalur rel. Kalau naik sekaligus turun dengan kereta gantung berkabin alias bisa masuk 6 orang, per orang nya bayar 6,5 Euro. Ada juga kereta gantung untuk berdua namanya Sesselift Rosstrappe bayarnya 4,5 Euro naik dan sekaligus turun. Sedangkan Rodelbahn Harzbob kena biaya 2,5 Euro sekali naiknya.

Berikut foto-foto selama disana. Sangat cocok buat acara kumpul-kumpul ringan bersama teman, keluarga atau pasangan.

Rumah Terbalik

Cable Car

Pemandangan dari Cable Car

Perbukitan sekitarnya

Bentuk pertma Cable Car

Nasi Kebuli adalah masakan yang populer di kalangan warga Betawi dan warga keturunan Arab di Indonesia. Nasi ini mirip dengan Nasi Biryani. Saya sendiri sudah sangat familiar sama nasi ini karena memang dari keluarga Betawi dan ada sedikit keturunan Arab. Nenek saya selalu buat Nasi Kebuli di beberapa perayaan. Salah satunya baru saya tau waktu akhir tahun 2016 lalu yaitu sebagai bentuk penerimaan untuk calon keluarga baru (baca: besan). Jadi keluarga saya buat Nasi Kebuli untuk diberikan ke keluarga suami sebagai tanda diterimanya mereka. Nah temannya Nasi Kebuli ini, biasanya daging semur. Tapi untuk saya yang baru berkeluarga dan belum biasa masak daging, (bisa masak kebuli aja baru-baru ini hehe) biasanya mengganti daging jadi ayam kecap.

Ayam Kecap & Nasi Kebuli
Untuk saya yang terbiasa dan cukup mudah untuk makan Nasi Kebuli, dan sekarang dihadapi dengan tempat tinggal yang jauh dari keluarga. Sedikit banyak buat saya kangen banget makan nasi ini. Alhamdulillah suami dapat rezeki pulang ke Indonesia beberapa bulan lalu dan Nenek saya titip bumbu kebuli buat saya racik sendiri ini. Yaa… walaupun saya sangat yakin rasanya jauh dari buatan Nenek saya. Akhirnya saya nemuin sendiri resep simple tapi enak buat dibikin sendiri dirumah. Bukan nemuin sendiri sih, aslinya Nenek kasih resepnya.. dan setelah beberapa kali buat sendiri dan masak buat banyak orang, ada tambahan keterangan resep buat dicatet banget. Ini nih resepnya :

Bahan-bahan :
(Untuk porsi 3 org/ 1x masak di rice cooker kecil atau di panci)

1. Beras arab 1 liter atau beras biasa juga bisa 
   (lebih bagus yang bentuk nasinya nanti ga terlalu pulen)
2. Bawang putih 3 siung, iris biasa. 
3. Bawang Bombay 1 siung, iris biasa. (bawang2-an saya iris agak tebal)
4. Susu murni ½ gelas (150-200ml)
5. Bumbu kebuli 1 sendok makan.
6. Tomat 1 buah, iris biasa.
7. Kambing ¼ Kg, atau Ayam ½ Kg. 
8. Garam secukupnya. (sekitar 1 ¼ sendok makan)
9. Gula secukupnya. (sekitar ¾ sendok makan)
10. Jintan 3 butir
11. Air kaldu (air rebusan daging kambing atau ayam. Lebih enak kalau air kaldunya udah dikasih garam, merica, bubuk bawang putih).

Cara pembuatan :
1. Rebus daging kambing atau ayam. Setelah matang, daging dipisahkan dari kaldu.
2. Kaldu air rebusan dikasih garam, bubuk bawang putih, merica. Dicicip hingga rasanya sudah enak. 
3. Cuci beras (sudah dalam tempat rice cooker).
4. Tuang susu ½ gelas ke beras.
5. Tuang kaldu hingga takaran airnya seperti untuk masak nasi biasa. (saya 1 ruas jari telunjuk dari permukaan beras).
6. Cemplungin bumbu kebuli, bawang putih, bawang bombay, tomat, garam, gula, jintan. Aduk semua.
7. Taruh daging kambing/ayam diatas beras.
8. Nyalakan rice cooker.
9. Setelah matang, aduk semua nasi hingga dasar rice cooker dengan butter atau mentega. (lebih enak pakai minyak samin).
10. Disajikan ke piring.

Nasi Kebuli (takaran 6 liter beras)

Kalau bisa bahan-bahan tadi lengkap ya. Waktu itu pernah bikin Nasi Kebuli tanpa tomat. Gataunya rasanya beda dari yang biasanya. Padahal mah tomat asem ya.. tapi itulah kalau gada tomat berasa ga lengkap rasanya hehe. Tapi silahkan aja kalau mau disesuaikan sama lidah masing-masing. Trus mesti banget diaduk sama mentega? Iya, biar lebih gurih rasanya. Kalau mau buat dengan porsi orang yang lebih banyak, bisa langsung dikali aja ya. Selamat mencoba :)

Post sebelumnya kurang lebih menggambarkan peta perjalanan kami selama pergi di Belanda. Nah kali ini mau sedikit sharing dan berbagi tips persiapan yang mesti di check sebelum melakukan perjalanan, yaitu :

Souvenir Amsterdam


1. Visa
Pastikan kita sudah mengantongi visa ya. Persiapkan dari jauh hari sebelum keberangkatan. Selain bisa cari infonya langsung ke kedutaan belanda, bisa juga nih mampir kesini http://www.vfsglobal.com/Netherlands/Indonesia/Bahasa/

2. Tanggal perjalanan sudah tepat
Tujuan kamu buat pergi ke tempat itu apa sih? Oh.. liat bunga.. berarti disaat musim bunga lagi mekar-mekarnya. Sekitar bulan April-Mei bunga sakura dan tulip lagi indah-indahnya. Cocok buat kalian yang niat pergi ke negara-negara yang menyajikan tempat wisata cantik untuk liat bunga. Jadi pastikan ketika kita pergi ke tempat itu, memang sedang musimnya. Jangan sampai salah waktu, sayang udah keluarin tenaga dan materi. Hehe.

3. Tiket perjalanan
Untuk perjalanan ke Belanda bisa di sesuaikan dengan lokasi tempat berangkat dan sesuai juga dengan anggaran. Bisa naik pesawat buat jarak tempuh yang lumayan jauh. Bisa juga naik bis untuk kalian yang ada di wilayah Eropa dan sekitaran Belanda. Pengalaman kemarin, kami naik Flixbus karena perusahaan bis ini melingkupi wilayah Eropa. Check di Flixbus.com. Kami pakai Flixbus ini untuk perjalanan ke Amsterdam dari Chemnitz. Pun dari Amsterdam ke Den Haag dimana kami sewa penginapan disana. Sebetulnya dari Amsterdam ke Den Haag bisa naik Intercity atau kereta, tapi setelah dibandingkan biayanya, naik Flixbus lebih murah per orang daripada naik kereta. Gimana cara cek nya? untuk Belanda, rute transportasi dan jumlah biaya perjalanannya bisa diliat di 9292.nl. Web itu untuk seluruh Belanda dimana kita bisa tracing perjalanan ke suatu tempat beserta transportasi yang mesti kita naikin. Mirip-mirip dengan pakai maps.google.com, tapi ini bisa terlampir sekaligus ongkos perjalanannya. 

4. Tempat tinggal atau penginapan
Untuk penginapan, kami booking hotel di Booking.com. Disana bisa keliatan rating penginapannya, pelayanan yang disajikan, info diskon, dll. Bisa juga kalau ada saudara di Belanda atau kerabat orang Indonesia yang bisa kita tumpangi untuk beberapa hari mungkin akan lebih hemat. Mahal atau ngga nya penginapan tergantung saat musim dan lokasinya. Kalau sedang musim liburan, harga penginapan cenderung mahal untuk di wilayah yang banyak tempat wisata. Termasuk lokasi hotel yang strategis atau dekat dengan pusat kota, stasiun dan halte. Kemarin kami silaturrahim ke wilayah Schiedam untuk ketemu dengan salah satu keluarga Indonesia, setelah bincang-bincang ternyata kami sebetulnya bisa dikasih tempat untuk menginap disana. Sayangnya kami sudah lebih dulu booking penginapan. Lokasi penginapan kami juga sengaja diambil di tengah-tengah diantara lokasi tempat yang mau kami kunjungi untuk lebih menghemat tenaga. Tips ambil lokasi penginapan, kita bisa lebih dulu list lokasi wisata mana aja yang mau dikunjungi. Trus kita ambil titik di tengahnya supaya mudah menjangkau ke seluruh tempat yang sudah di target. Ada beberapa jenis penginapan yang bisa dipilih. Dari yang privat sampai kamar yang mix isinya bisa lebih dari 5 orang. Intinya satu kamar bercampur dengan orang lain tapi beda kasur ya. Kamar jenis ini juga lebih murah daripada yang privat. 

5. Rute perjalanan atau itinerary 
Sebetulnya diantara list persiapan sebelum melancong ke Belanda, ini nih yang paling lama dan bikin pusing buat nya. Dirancang dari lokasi mana aja yang mau dikunjungin, mau ngapain aja kesana, naik apa dan kearah mana, semua itu mesti ada dan selengkap mungkin disusun sebelum pergi. Kenapa? Karena lengkap ngga nya itinerary yang dibuat, berpengaruh sama seberapa banyak lokasi yang bisa kita datengin. Kalau bermodal list tempat aja, kurang banget. Alhasil beberapa minggu sebelum pergi udah mantengin google maps dan 9292.nl. Untuk tempat wisata nya kami liat di Tripadvisor.com atau blog-blog lainnya. Pastikan kita juga tau arah kemana kita naik tram atau naik bis, jadi jangan sampe muter-muter atau malah balik ke tempat semula :’). Kurang lebih ini format itinerary yang kami buat :
Contoh Itinerary


6. Perkiraan budget (tranporasi lokal & tiket tempat wisata)
Setelah buat itinerary, kita list tempat mana aja buat dikunjungin. Biasanya ada official web dri tempat wisatanya dan tertera berapa harga tiket masuk. Jangan lupa cek review pengunjung yang pernah datang kesana. Biasanya setiap orang punya selera yang berbeda, jdi pilihlah tempat sesuai prioritas dan yang disenangi. Untuk Belanda sendiri, sangat ramah buat orang yang suka berkunjung ke museum. Banyak banget museum disana. Selain bisa pesan tiket online, bisa juga beli on the spot dan kalau ga salah liat kemarin di Dam Square ada semacam ruko penjualan tiket museum dan tempat wisata yang ada di Belanda. Tapi buat aman, dan menghindari resiko yang tidak diduga, lebih baik online :)

Untuk transportasi, hampir diseluruh Belanda sudah pakai kartu OV-Chipkaart. Serupa dengan kartu atm, OVC ini perlu diisi saldo nya. untuk beli kartunya aja kita perlu bayar 7,5 Euro. Di stasiun kita bisa langsung isi kredit sebanyak perkiraan biaya transport selama perjalanan. Buat turis, lebih baik bikin kartu tanpa nama karena suatu saat bisa kita kasih pinjem buat orang lain yang juga ingin pergi ke Belanda. Cara buatnya mudah, di stasiun Sloterdijk misalnya.. saat masuk stasiun kita udah bisa liat kotak mesin pembelian tiket yang cukup banyak berwarna kuning. Kita tinggal ikutin instruksi dari mesin dan bisa dalam bahasa inggris. Setelah punya tiketnya, mau naik atau turun tram, bus, atau metro jangan lupa tap kartu nya ya.


Mesin beli OVC
(transportticket.com)


7. Makan, minum, dll
Kalau kita udah booking penginapan yang sekaligus bisa dapet sarapan, ini lumayan membantu kita untuk stock banyak makanan di kamar. Atau yang nyediain dapur untuk buat makan sendiri. Tapi kalau penginapannya tidak menyediakan fasilitas itu-itu tadi, pastikan kita nyimpan makanan selama perjalanan datang seperti biscuit (penting buat yang punya sakit maag), roti dengan isiannya atau snack lainnya yang memudahkan buat dibawa dan lumayan buat ganjel perut. Di Belanda sendiri ada namanya Albert Heijn sejenis market yang berjamur disana. Mudah di temuin dan kita bisa beli stock makanan kalau memang mau kecuali di hari minggu hampir semua toko tutup, seperti di Jerman. Kalau air putih sih kita bisa dapetin gratis dari kamar mandi hehe. Jadi sedia botol aja kalau mau lebih hemat :)

Albert Heijn
(i1.belfastlive.co.uk)


Kalau wifi atau koneksi internet gimana? Alhamdulillah Belanda termasuk ke negara yang royal ngasih wifi di tempat umum. Jadi kalau sewaktu-waktu nyasar atau butuh liat google maps, bisa cari wifi gratis dan masalah selesai. 

Secara umum, petunjuk jalan yang disedain negara ini udah bagus. Jadi cukup mudah untuk tau rute perjalanan kemana aja. Kedatangan tram dan transportasi lainnya juga cukup presisi. Jadi, usahakan jalan dan pulang selama berkelana disesuaikan sama itinerary yang udah dibuat karena akan sangat membantu. Sekian. Semoga bermanfaat :)

Alhamdulillah, tanggal 13-17 April 2017 kemarin kami bisa berkunjung ke Belanda. Awalnya ga terlalu matok mau kesana, tapi karena waktunya pas saat musimnya bunga tulip mekar, ditambah dapet voucher tiket bis murah yaitu 20Euro Chemnitz-Amsterdam per orang. Akhirnya kami mutusin untuk melancong kesana. Dari 5 hari perjalanan, sebenernya cuma 3 hari efektif kami jalan-jalan dan 2 harinya adalah waktu perjalanan. Maklum perjalanan lama karena naik bis Chemnitz-Amsterdam makan waktu kurang lebih 19 jam dari jadwal aslinya 16 jam dan 1 kali transit di Nurnberg.

Di hari pertama (14/04/2017), kami keliling kota Amsterdam. Tepatnya di sekitaran Dam Square. Jam setengah 1 kami tiba disana dari Halte Sloterdijk. Singgah dulu makan siang di tempat kebab (karena jelas tulisan halal nya). Pas banget saat itu lagi ada semacam festival atau di indo kayak pasar malem gitu ya yang ada bianglala nya tapi ini lagi siang bolong. Objek wisata yang mengelilingi Dam Square ada cukup banyak, tapi kami cuma muterin Dam Square aja tanpa masuk ke objek wisatanya seperti Madam Tussaud, Royal Palace, De Nieuwe Kerk, Rijkmuseum, Anne Frankhuis, Body Worlds, dll. Kami berkeliling sampai pukul 6 sore lewat karena rute selanjutnya kami mesti ke penginapan (The Student Hotel) di Den Haag dengan menaiki bis dari Sloterdijk. 


Royal Palace, Amsterdam

Beurs Van Berlage, Amsterdam

De Nieuwe Kerk, Amsterdam

Magna Plaza, Amsterdam

Bloemenmarkt, Amsterdam

Rijkmuseum, Amsterdam

IAMSTERDAM 

Di hari kedua ini adalah tujuan utama kami ke Belanda. Liat tulip di Keukenhof, Lisse. Pukul 8 pagi kami keluar dari penginapan langsung ke Leiden Centraal naik kereta. Alhamdulillah kami dapat bis kedua menuju Keukenhof dengan penumpang yang tidak terlalu banyak. Sampai di Keukenhof, cukup banyak pengunjung yang sudah datang. Kami ambil peta, dan masuk ke dalam. Biaya masuknya sebesar 16Euro atau sekitar 230.000 per orang. Ketika di dalam, saya menemukan alasan kenapa banyak pengunjung dari berbagai negara datang kesini. Ternyata bentuk tulipnya ga itu-itu aja, semuanya indaah.. ohiya, untuk ke Keukenhof ada bis khusus sekali jalan kesana dengan jarak tempuh hampir setengah jam. Sepanjang jalan kesana mata kita juga udah dimanjakan pemandangan ladang penuh tulip beberapa kali.

Bergerak dari Keukenhof jam 11, kami on the way ke Schiedam, dekat Rotterdam. Pergi kesini awalnya niat silaturrahim ke satu keluarga Indonesia kenalan Abi saya, tapi kami sempat muter-muter liat Molen di daerah ini. 

Keukenhof, Lisse







Molen, Schiedam

Hari ketiga waktu berkeliling Den Haag sekaligus arah pulang ke Chemnitz. Di Den Haag kami sempat pergi ke Peace Palace dan Binnenhof. 


Binnenhof, Den Haag

Peace Palace, Den Haag


Prins Van Oranje

Bonus foto lainnya ... hehe.

Pion raksasa

Westermoscee Aya Sofiya, Amsterdam